Pendidikan Islam Multikultural Untuk Mewujudkan Civil Society: Rujuk Ulang pada Hijrah Nabi Muhammad SAW

  • Munjahid Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) An-Nur Yogyakarta
Keywords: Pendidikan Islam Muticultural, Civil Society, Hijrah

Abstract

Banyak orang yang salah paham terhadap Islam, mereka menyamakan  antara Islam dengan Muslim,  sehingga apa yang terjadi pada  sebagian umat Islam  digeneralisasi ke dalam agama Islam atau ajaran Islam. Terdapat  kesan bahwa  seolah-olah Islam adalah agama yang terbelakang, karena banyak orang Muslim  yang bodoh, tidak dapat bersatu, bersikap brutal, mudah  terprovokasi untuk melakukan  kekerasan, bahkan banyak yang menjadi teroris. Hal ini diperburuk  dengan sejumlah  negara-negara Islam  atau Negara- negara  yang  berpenduduk   mayoritas   Muslim yang  terbelakang   dan tidak memiliki pengaruh atau  kekuasaan  di mata  dunia  terutama  negara-negara Barat.  Pendidikan  Islam yang diterapkan  oleh Nabi Muhammad SAW., ketika beliau hijrah ke Madinah,  adalah jawaban untuk tamparan semua tuduhan tersebut. Nabi Muhammad  SAW., sebagai rasul sekaligus sebagai kepala negara dapat menjadi teladan yang cerdas dan mampu  membawa pengikutnya  yang plural  baik secara etnis,  kelompok,  budaya  maupun agama, mampu mencapai  kemakmuran,  kedamaian,  kebebasan, kesetaraan dan kemajuan  yang belum pernah  dapat dicapai  oleh para pemimpin  Muslim setelah  itu. Masyarakat  Madinah sebagaimana yang dipimpin oleh Nabi Muhammad  SAW disebut sebagai civil society oleh para pemikir terkemuka Indonesia semisal Nurchalis Madjid.

Published
2020-02-05